Mempertanyakan Kembali Daya Saing Pekerja Di Era Serba Otomatis

Mempertanyakan Kembali Daya Saing Pekerja Di Era Serba Otomatis

Kita mungkin sudah tidak asing dengan istilah-istilah atau wacana-wacana revolusi teknologi 4.0 yang mudah ditemui di seluruh media maya, tinggal input kata di tools searching di google, twitter atau media sosial yang lainnya “revolusi teknologi 4.0”, maka algoritma dari masing-masing platform media sosial itu akan memunculkan ratusan bahkan ribuan diskursus mengenai apa yang kita input tadi, yaitu “revolusi teknologi 4.0”.

Namun kita tidak akan membedah secara rinci bagaimana cara kerja algoritma atau menelisik lagi bagaimana machine learning bekerja. Kita hanya akan membahas apa dan bagaimana agenda revolusi teknologi 4.0 ini berimplikasi kepada rakyat pekerja dengan bentuk eksploitasinya yang telah di upgrade dan membahas bagaimana posisi daya tawar pekerja dihadapan pasar kerja, dan tentunya di sini saya akan membahasnya dari perspektif pekerja, karena saya sudah muak dengan membaca berbagai diskursus tentang revolusi teknologi 4.0 di berbagai platform media sosial dan ruang publik yang rata-rata mengatakan bahwa agenda revolusi teknologi itu adalah sebuah kemajuan teknologi yang akan memudahkan seluruh pekerjaan umat manusia, manusia akan terasa seperti hidup di surga, bla bla bla, dan lain-lain. Saya kira itu adalah propaganda yang tidak berpihak pada rakyat pekerja. Karena bila kita melihat revolusi teknologi ini dari perspektif industri atau dari perspektif pemodal (pemilik kapital), maka dengan sangat yakin saya akan mengatakan bahwa masuknya agenda itu adalah untuk sepenuhnya untuk mengefisiensi labor cost (ongkos kerja), dan mengupgrade cara kerja eksploitasi kapitalistik itu.

“hentikan eksploitasi pada buruh.. !!!!!!”

Begitulah bagaimana kaum buruh mengucapkan kekesalannya terhadap apa yang dialami kehidupan dan penghidupannya. Namun rupanya terkadang kita salah dalam memahami bagaimana eksploitasi itu bekerja, sehingga umpatan-umpatan bermuatan narasi moral kerap keluar dari mulut kaum buruh dengan tak terbendung “kapitalis jancokk, kapitalis setannnnn asu kirikkk jahanammmm” . Apakah kita perlu membahasnya? Saya rasa iya, tapi ya jangan terlalu detail lah yaa setidaknya sampai dari kita tidak ada yang salah memaknai bagaimana cara kerja eksploitasi itu sehingga mengekspresikan kekesalan dengan umpatan-umpatan penuh amarah, hehe…

Suatu hari, seorang buruh bertanya kepada saya perihal eksploitasi.

“Ketika saya bekerja dipabrik, terutama pabrik saya yang sekarang, saya mendapat gaji UMR (Upah Minimum Regional) dan itu kebetulan sangat mencukupi untuk kebutuhan saya satu bulan, apakah dengan perasaan seperti itu saya masih tetap tereksploitasi?”

Atau

“Saya bekerja di sebuah perusahaan dengan atasan yang sangat budiman dan dermawan, tidak jarang dia mengajak saya ngopi dan mentraktir saya makan. Apakah saya dalam keadaan tereksploitasi?”

Pertanyaan-pertanyaan ini kerap ditanyakan oleh banyak kalangan terutama buruh, bahkan akademisi maupun aktivis kiri. Mari pelan-pelan kita membahasnya dalam realitas objektifnya agar tak terjebak dalam ke ranjang yang penuh dengan umpatan dan evaluasi moral. Tentu saja, saya akan membedahnya dengan referensi adikarya Das Kapital karya yang mulia Karl Marx, dan semoga pembahasan yang saya tulis ini mudah dipahami dari masing-masing kita. Agar tidak hanya terlihat seperti tulisan-tulisan progresif yang hanya jauh menatap langit tapi lupa kakinya masih menapak di bumi. Atau kalau saya meminjam kalimat yang diucapkan teman saya Bung Septian Wiratama di twitter, “bikin tulisan yang ndakik-ndakik aja bangga”.

Apakah eksploitasi itu? Dalam karyanya Das Kapital, Karl Marx tidak pernah memberi pernyataan bahwa eksploitasi itu dibebani dengan narasi-narasi moral. Eskploitasi kapitalistik itu adalah proses penciptaan nilai lebih oleh kaum buruh dalam proses panjang produksi suatu komoditas, yang diakhir proses panjang produksi komoditas itu, maka nilai lebih yang dihasilkan dari proses produksi awal itulah tujuan dari seluruh kapitalis. Dalam evaluasi hukum dan moral, hal tersebut sangat sah. Karena buruh sendiri yang datang melamar ke pabrik dan tanda tangan kontrak kerja, tidak ada paksaan, tekanan ataupun penipuan. Marx sendiri mengatakan bila kapitalisme didasarkan pada penipuan maka sistem kapitalisme tidak akan lama hidupnya. Jadi setelah kontrak kerja itu ditandatangani, maka secara hukum sah dan karena tidak ada paksaan ketika buruh melamar dan menandatangani kontrak kerja itu, secara moral juga sah. Maka, seperti halnya membeli barang dagangan, komoditas tenaga kerja yang dimiliki oleh buruh sah digunakan (eksploitasi) kapanpun semau pembeli komoditas (tenaga kerja) tersebut yaitu oleh pemilik modal, dalam arti lain, transaksi jual beli komoditas yang berupa tenaga kerja itu adalah didasari prinsip kesepakatan atau suka sama suka.

Permasalahannya, dengan apa harga komoditas tenaga kerja itu diukur? Harga dari komoditas tenaga kerja diukur dari akumulasi kebutuhan hidup pekerja sehari-hari itu sendiri sehingga bisa untuk menyambung hidup dan dieksploitasi lagi dan lagi secara berkala dan sistematis.

Tapi kata Marx, mengapa dan bagimana sistem yang sedemikian adil dan netral secara hukum dan moral itu menghasilkan ketimpangan dan kesenjangan yang luar biasa sistematis dan berkelanjutan? Menurut seorang feminis marxis Italia Mariarosa Dalla Costa, eksploitasi kapitalistik tidak dapat dilihat hanya dari relasi kerja dominan, karena eksploitasi kapitalistik ini juga bersifat berkala dan sistematis sebab ia berada dalam tubuh sebuah sistem sehingga berdampak pula kepada kehidupan dan penghidupan kelas proletar (kelas yang paling sedikit memiliki akses terhadap kapital).

Maksudnya bagaimana? Pertanyaan menarik. Jika kita memakai setting waktu dulu abad 17-an ketika kapitalisme mulai muncul, seorang pekerja dikatakan siap untuk dipekerjakan (dieksploitasi tenaga kerjanya), apabila pertama-tama mereka harus dilahirkan, diberi makan, diberi minum, diberi pendidikan, diajari untuk bersosialisasi, menjaga kesehatan, dan lain-lain. Masa iya orang lahir langsung siap dieksploitasi? Kan tentu tidak. Lalu apakah kapitalis-kapitalis itu membayar kebutuhan harian kita itu? Tidak. Mereka hanya menakar harga komoditas tenaga kerja yang dibelinya dari pekerja dengan hanya mempertimbangkan akumulasi kebutuhan hidup pekerja untuk tetap hidup sehari-hari.

Aspek inilah yang menjadi penting untuk dilihat lagi ketika eksploitasi yang terjadi didalam relasi kerja berimplikasi pada kehidupan dan penghidupan kelas pekerja (aspek kerja reproduktif). Nah apakah aspek kerja reproduktif itu dan bagaimana situasi objektif realitanya saat ini? Aspek kerja reproduktif adalah aspek kerja-kerja yang membuat anda siap dipekerjakan, anda menjadi siap untuk dieksploitasi, yang menjadikan anda mempunyai performance, yang membentuk dan menjadikan anda mempunyai keterampilan-keterampilan khusus yang dibutuhkan oleh perusahaan (kerja-kerja reproduktif inilah yang memang tidak berkorelasi langsung dengan proses penciptaan nilai di perusahaan, tapi disyaratkan).

Lalu apa hubungannya dengan revolusi industri 4.0? Skuyy lurr dibahas. Saya kira dari kita kerap membaca lowongan kerja dari bebagai platform media sosial ya? Apakah kita sadar dengan apa yang diminta perusahaan tentang skil-skil yang dibutuhkan oleh mereka? Ya, hampir semua penawaran pekerjaan sekarang selalu mensyaratkan hal-hal yang non-teknis. Misalnya, harus good looking, berkomunikasi dengan baik, berat badan minimal sekian, harus murah senyum, bisa bekerja sama dengan tim, bisa berpikir meta, dapat menguasai complex problem solving dan lain-lain. Ini adalah ketrampilan-ketrampilan non-teknis (Soft Skill).

Mari saya beri contohnya, seumpama bila saya ingin menjadi pekerja di sebuah perusahaan dengan jabatan HRD, pertama-tama saya harus dilahirkan, diberi makan dan penghidupan, lalu harus di sekolahkan dari SD, SMP, SMA lalu lanjut ke perguruan tinggi dan biasanya harus dari jurusan psikologi, membeli dan membaca buku psikologi, nongkrong di kafe dengan teman berbincang tentang psikologi, dan seterusnya. Apakah kapitalis itu membayar ongkos kita untuk menuju itu semua sebagai desain cadangan industrialnya? Tidak, mereka tidak mau tahu dengan apa yang kita kerjakan di dalam kehidupan kita, tetapi mereka hanya membutuhkan curiculum vitae kita itu (hasil dari kerja-kerja aspek reproduktif kita). Perjuangan dibalik curiculum vitae itu tidak akan diprioritaskan dan tidak akan ada harganya, sehingga kenapa saya menyebutnya eksploitasi aspek reproduktif? Karena pemilik kapital tidak hanya mendapat nilai lebih dari yang diciptakan di dalam relasi kerja dominan, tapi juga mendapat nilai lebih dari aspek kerja reproduktif pekerja yang tidak dibayar itu.

Nah di pasar tenaga kerja, kebutuhan akan tren soft skill ini semakin tinggi karena adanya teknologi yang telah mengotomasi kerja-kerja kasar, atau bila kita melihatnya dari perspektif pekerja, maka kita akan berkesimpulan bahwa masuknya teknologi yang diusung revolusi industri 4.0 ini akan menekan habis-habisan aspek reproduktif kita, selain itu juga akan mendepak pekerja kasar dari pekerjaannya ke pekerjaan yang rentan yang tidak jelas sistem upahnya, juga tidak ada jaminan kerja dan lain-lain.

Bagaimana maksudnya? Begini, dalam era 4.0 kita akan segera melihat bahwa ada sesuatu yang menjadi konsentrasi kapitalis untuk memperbarui bentuk eksploitasinya. Masuknya teknologi yang akan mengotomasi kerja-kerja kasar sepenuhnya menjadikan visi kapitalis untuk mengefisiensi ongkos kerja telah/akan berhasil, dan sangat dimungkinkan ekslpoitasi di dalam relasi kerja akan segera usang (tidak dapat memproduksi nilai lebih secara lebih seperti dulu karena tenaga kerja sudah digantikan oleh mesin). Maka yang akan dibabat habis oleh kapitalis yaitu aspek reproduktif kita. Itulah yang membedakan eksploitasi aspek reproduktif dulu (setidaknya sebelum revolusi industri 3.0) dan sekarang, dalam artian bahwa, dulu aspek reproduktif ini hanya diminta sebagai prasyarat umum (tidak wajib), sekarang menjadi prasyarat khusus (wajib).

Skill-skill yang digandrungi kapitalis kontemporer dalam mencari pekerja untuk bekerja di perusahaannya itu rata-rata tidak cukup didapatkan di dalam kelas-kelas kuliah (pendidikan formal), maka dari itu kita harus terus menerus belajar lagi, diskusi lagi, membaca buku lebih banyak lagi agar terbiasa dengan skill apa yang diminta perusahaan. Nah belajar terus menerus, diskusi di kafe dengan kakak tingkat misalnya, membeli dan membaca banyak buku (kerja-kerja reproduktif) ini tak akan dibayar oleh perusahaan karena itu semua tidak produktif untuk perusahaan, maka dari itu kita menyebutnya aspek reproduktif. Aspek inilah yang terus ditekan oleh kapitalis. Jika kita sebagai pekerja yang daya saingnya sangat kompetitif tidak perform (tidak menguasai soft skill) di perusahaan, ya dengan mudah kapitalis itu mendepak kita dari pekerjaan kita, dan kita terdepak ke sektor-sektor kerja informal yang bahkan tak berbayar dan tak ada jaminan kerja.

Bagaimana contoh relasi kerja informal itu? Pekerja yang bekerja di pinggir jalan menjual nasi goreng yang bukan miliknya sendiri itu adalah contoh pekerjaan informal yang menjadikan pekerja semakin rentan, yang pekerjanya tak dapat tunjangan, akumulasi upahnya tidak jelas, dan lain-lain.

Bagaimana contoh relasi kerja informal yang bercorak 4.0? Ketika anda log in dan beraktivitas di sosisal media seperti facebook, twitter, instagram, tiktok, dan lain-lain, anda sudah  dinobatkan menjadi pekerja sosial media tersebut. Betapa tidak? Ketika kita beraktivitas di facebook misalkan, kita memproduksi data yang melatih machine learningnya facebook untuk terus belajar. Kita memproduksi data (komoditas), kita juga sebagai pekerja yang tenaga kerjanya diserap oleh facebook (menghasilkan data yang merupakan komoditas), dan kita juga sebagai objek konsumen dari perusahan iklan yang membeli data yang kita produksi dari facebook, dan sebagai pekerja, facebook tidak memberikan upah sebagai harga dari tenaga kerja yang kita curahkan.

Seperti itulah contoh relasi kerja informal bercorak 4.0, tak berbayar, tak ada tunjagan dan jaminan. Pekerja jauh lebih rentan bukan? Jelas iya. Kapitalisme tidak akan kehilangan pikiran bagaimana cara membuat nilai yang lebih banyak dari sebelum-sebelumnya, dan saat ini, kita dihadapkan pada corak produksi kapitalistik yang semacam itu, dan menjadikan pekerja jauh lebih rentan dan memproduksi kesenjangan yang semakin senjang.

Ada banyak cara untuk terbebas dari keadaan semacam itu. Namun hal yang paling nyata saat ini adalah bagaimana cara bertahan di dalam situasi sulit ini. Pekerja yang waktu produktifnya hanya diberikan kepada perusahaan, tidak akan sempat membaca banyak buku tentang Lenin atau Stalin. Tetapi meraka bisa membangun kolektif pekerja untuk mengorganisir kerja-kerja belajar (kerja-kerja reproduktif) yang menjadi tuntutan perusahaan agar individu pekerja itu mempunyai daya saing, lalu perlahan-lahan memperluas jaringan kolektif dan mengagendakan penggeseran corak produksi kapitlistik ke corak produksi sosialistik.

bersatulah kaum buruh sedunia

Bunny, rakyat pekerja yang resah

5 thoughts on“Mempertanyakan Kembali Daya Saing Pekerja Di Era Serba Otomatis

  1. Pingback: elojob
  2. Pingback: Plumber Sydney
  3. Pingback: kardinal stick

Leave a Reply